HUKUM MEMUGAR MASJID, MENGHIAS, DAN MENGUKIR DINDINGNYA

August 25, 2009 at 2:17 am (TENTANG ISLAM)

HUKUM MEMUGAR MASJID, MENGHIAS, DAN MENGUKIR DINDINGNYA

Pemugaran yang dimaksudkan ialah membangun masjid dengan tembok batu bata untuk menambah kekuatan bangunan atap dan tiang-tiangnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan menghiasi dan mengukir ialah menambah bangunan asal dengan beraneka hiasan.

Semua ulama membolehkan bahkan menganjurkan pemugaran masjid berdasarkan apa yang dilakukan Umar radhiyallahu’anhu dan Utsman radhiyallahu’anhu yang telah membangun ulang masjid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Kendatipun perbuatan itu tidak pernak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi juga tidak menunjukkan kepada pemahaman sebaliknya, yakni pelarangan pemugaran.

Hal ini karena masalah pemugaran ini tidak berkaitan dengan sifat yang akan merusak hikmah disyariatkannya pembangunan masjid, bahkan pemugaran itu sendiri akan meningkatkan pemeliharaan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama juga menguatkan pendapat ini dengan mendasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Hanyalah orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian….”

(at-Taubah [9] : 18)

Pemakmuran ini diantaranya dengan jalan pemugaran dan pemeliharaan bangunannnya.

Berkaitan dengan masalah ukiran dan hiasan (seperti membuat ornamen, relief, menulis, ataupun menggantungkan hiasan pada dinding) masjid, para ulama umumnya memakruhkannya, bahkan sebagian ulama ada yang mengharamkan. Akan tetapi, baik para ulama yang memakruhkannya maupun yang mengharamkannya, semua sepakat mengharamkan penggunaan harta wakaf untuk keperluan menghiasi dan mengukir masjid. Jika uang yang dipakai untuk menghias dan mengukir itu berasal dari pembangunan masjid itu sendiri, ternyata hal ini pun masih diperselisihkan. Az-Zarkasyi menyebutkan pendapat Imam al-Baghawi yang menyatakan, ”Tidak boleh mengukir masjid dengan memakai harta wakaf. Bila ada orang yang melakukannya, dia harus dituntut untuk membayar ganti rugi. Andai ia melakukannya dengan hartanya sendiri, hal itu dimakruhkan karena mengganggu kekhusyukan orang-orang yang shalat.

Perbedaan antara pemugaran secara umum dan pengukiran atau penghiasan secara khusus cukup jelas.

Masalah pemugaran, seperti telah kami sebutkan, tidak berkaitan dengan sifat atau tujuan yang dapat merusak hikmah pensyariatan pembangunan masjid. Adapun menghiasinya, ada pendapat yang tegas mengharamkannya karena dapat merusak kekhusyukan orang yang shalat atau mengingatkan orang kepada bentuk-bentuk kemegahan kehidupan duniawi, padahal tujuan memasuki masjid di antaranya adalah ingin manjauhkan pikiran dari segala bentuk ketertambatan pada kemegahan dan perhiasan duniawi.

Inilah yang diperintahkan oleh Umar radhiyallahu’anhu ketika dia memerintahkan pembangunan masjid. Katanya, ”Lindungilah orang-orang dari tampias hujan. Janganlah kamu mewarnai (dinding masjid) dengan warna merah atau kuning sehingga dapat menimbulkan fitnah.

Para ulama berselisih pendapat tentang penulisan ayat-ayat al-Qur’an pada bagian kiblat masjid, apakah termasuk ukiran yang dilarang atau tidak. Berkata Az-Zarkasyi di dalam kitabnya A’lamul Masjid,

”Makruh menulis ayat-ayat al-Qur’an atau yang lainnya pada bagian kiblat masjid, sebagaimana pendapat imam malik. Sebagian ulama membolehkannya dan sebagian yang lain tidak menganggapnya sebagai kesalahan. Pendapat mereka ini didasarkan kepada apa yang dilakukan oleh Utsman radhiyallahu’anhu terhadap masjid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Dalam hal ini, tak seorang pun yang mengingkarinya.”

Dari penjelasan di atas nyatalah kesalahan orang-orang sekarang yang memakmurkan masjid dengan jalan mengukir dan menghiasinya dengan beraneka ragam seni ukir dan seni lukis yang mencerminkan kemegahan sehingga setiap orang yang memasuki masjid tidak dapat lagi merasakan arti ’ubudiyah dan merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang dirasakannya hanyalah kebanggaan terhadap kemajuan seni  bangunan dan seni lukis (kaligrafi).

Sebagai akibat terburuk dari permainan setan terhadap kaum Muslimin ini adalah bahwa kaum fakir miskin tidak lagi dapat menemukan tempat untuk menjauhkan diri dari segala bentuk tawaran kemegahan duniawi. Dulu, masjid menjadi tempat ”menyejukkan” hati orang-orang fakir miskin dan mengeluarkan mereka dari suasana kemegahan dunia menuju keutamaan akhirat, namun  sekarang, di dalam masjid pun mereka disodori kemegahan duniawi yang tidak pernah mereka nikmati dan rasakan.

Betapa buruknya kondisi kaum Muslimin yang telah meninggalkan hakikat Islam dan memperhatikan bentuk-bentuk lahiriah yang palsu yang penuh dengan dorongan hawa nafsu dan syahwat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: