CERPEN

March 23, 2009 at 1:34 am (CERPEN)

SECERCAH CAHAYA

Aku memiliki seorang sahabat, namanya Adrian. Dia pintar, ramah, dan mahir dalam bermain basket sehingga tidak aneh bila dia terpilih menjadi kapten dalam team. Sifat keramahannya membuat dia tidak tega kalaumelihat wanita disakiti, dipermalukan apalagi dipojokkan, takkan dia biarkan satu detik berlalu meninggalkannya untuk memberi pertolongan. Setiap kali kutanyakan mengapa dia tidak ingin melihat wanita disakiti, dia selalu menjawab, “karena aku lahir dari rahim seorang wanita”. Dia pun mengajarkanku banyak hal, tentang pelajaran, basket, dan tentang kehidupan.
Pada sabtu sore, Adrian dan teman-teman mengikuti pertandingan basket persahabatan antara sekolah kami dan SMA Tunas Bangsa. Pertandingannya menjadi semakin seru karena mereka sama-sama mahir dalam bermain basket. Sorak-sorai para pendukung masing-masing sekolah tak dapat dibendung lagi, suasananya semakin meriah ketika sekolah kami berhasil memenangkan pertandingan. Aku pun tidak lupa memberikan ucapan selamat pada Adrian yang wajahnya telah meng ekspresikan sebuah kepuasan karena dapat memenangkan pertandingan itu. Hubungan kami dengan sisiwa SMA Tunas Bangsa juga semakin akrab. Kemenangan tidak membuat kami lupa diri dan kekalahan tak membuat mereka kecewa karena tawa dan senyum masih dapat kusaksikan diraut wajah mereka saat beranjak pergi meninggalkan sekolah kami.
Ditengah-tengah kebahagiaan yang dirasakan Adrian, tiba-tiba Adi datang mengajak kami kerumah sakit karena orang tua Adrian kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Tak ada kata yang dapat diucapkan lagi, tetesan bening itu muncul di sudut matanya, semkin lama semakin deras seakan tak ingin berhenti untuk mengalir. Setelah berapa lama Adrian larut dalam kesedihan, para kerabat pun datang untuk mengurus jenazah orang tuanya agar segera dimakamkan. Orang tuaku, teman-teman, para guru, dan tetangga datang berbelasungkawa ke rumah Adrian, hanya terima kasih yang dapat diucapkannya.
Ketika aku hendak pamit pulang, Adrian bertanya,
“Bagaimana jika kamu berada diposisiku?”
“Aku pasti rapuh dan lari kenyataan hidup”
“Mengapa?”
“Karena aku tidak sanggup Adrian”
“Lalu Tuhan berpikir Aku sanggup menghadapi semua ini! Akupun tidak sanggup Ana!” serunya sambil menangis.
Tak mampu kumelihatnya menghakimi Tuhan seperti itu. Dia seperti tidak punya semangat hidup lagi. Aku takut kalau-kalau dia salah langka, tapi kucoba untuk meyakinkan diri bahwa peristiwa akan membuatnya semakin dewasa, karena dia selalu berpikir positif terhadap masalah yang menimpanya.

☺☺☺

Seiring dengan berjalannya waktu, genap sudah satu bulan kepergian orang tua Adrian menghadap sang pencipta. Waktu yang bisa dikatakan singkat itu mampu merubahnya 180 derajat. Sekarang dia menjadi pendiam, lebih sering menyendiri, tidak pernah latihan basket lagi, nilai-nilainya turun drastis, dan yang paling menyedihkan dia selalu menghindariku. Aku merasa seperti orang asing dihadapannya. Perubahan itu turut mengubah pandangan teman-teman terhadap dirinya. Aku pun memberanikan diri untuk berbicara padanya.
“Adrian, apakah tali persahabatan itu masih terulur diantara kita?” tanyaku
“Tentu, dan mungkin tak akan prnah putus.”
“Dapatkah kulihat sosok Adrian yang dulu, Adrian sahabatku?”
“Inilah diriku. Maaf An! Biarkan aku bersama kehidupanku!”
“Tapi Adrian”
“Kumohon”, pintanya kepadaku.
Aku pun tak dapat berkata apa-apa lagi karena aku tak ingin memaksanya, tapi aku tak tahu dengan kehidupan yang dia maksud dan aku semakin tidak mengerti dengan dirinya. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga dia melupakan mimpi-mimpinya, mimpi yang telah lama ia rajut dan lebih memilih untuk bergabung bersama Rangga, siswa yang selalu menjadi langganan ruang BP karena kasus yang diciptakannya sendiri. Hanya satu harapanku, jangan sampai kehidupan yang diinginkannya akan menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.
Tanpa kusadari ternyata Wahyu telah berada dihadapanku seraya menyaksikan kebingunganku.
“Inginkah kau melihat Adrian seperti dulu lagi?”
“Itu harapanku”
“Ikutlah denganku, mungkin dapat menjawab semua pertanyaan di benakmu”
Akhirnya aku mengikuti Wahyu, walaupun sebenarnya aku tidak tahu kemana dia akan membawaku. Wahyu pun mematikan motornya kira-kira enam meter dari rumah Adrian.
“Rumah Adrian?” tanyaku dengan nada keheranan.
“Kita akan menyelinap ke rumah Adrian, jadi kita harus hati-hati.”
Mellihat Wahyu berbicara seperti itu aku menjadi semakin takut kalu-kalau Adrian…., tapi kucoba untuk berpikir positif. Adrian tak mungkin melakukan hal itu. Kami menyelinap melalui pintu belakang, dengan hati-hati berjalan menuju samping rumah yang berdekatan dengan ruang tengah, perlahan-lahan menyaksikan mereka melalui ventilasi. Sungguh tak dapat dipercaya bahwa Rangga berhasil mencuci otak Adrian, sehingga ia mau menikmati barang-barang haram itu. “Oh Tuhan, tidak mungkin,” jerit hati kecilku.
Wahyu tak henti-hentinya memberikan isyarat kepadaku agar tetap tenang, karena kalau sampai ketahuan, kami pasti akan menjadi korban berikutnya. Setelah semuanya jelas Wahyu mengajakku pulang. Di sepanjang perjalanan kamipun berbincang-bincang,
“Sejak kapan kau menngetahui semua ini Wahyu” tanyaku
“Sehari setelah orang tua Adrian meninggal, Rangga selalu mendatanginya, kupikir Rangga datang untuk berbelasungkawa, tapi ternyata ingin membuat Adrian menjelma menjadi bayangannya. Aku sudah berusaha untuk melarang, tapi telat.”
“Kita kalah satu langkah dari Rangga, andai saja dulu aku tidak membiarkannya sendiri, mungkin semua ini takkan terjadi”
“Berhentilah berandai-andai An. Sekarang kita pikirkan bagaimana menyeret Rangga ke kantor polisi agar takkan ada korban lagi. Aku sudah punya bukti,” tegasnya sambil memperlihatkan sebuah amplop.
“Lalu bagaimana dengan Adrian?”
Tanpa menjawab, Wahyu menghentikan motornya karena telah sampai didepan rumahku. Kemudian dia pergi tanpa meninggalkanku, akupun mengerti mengapa dia tidak menjawab.
☺☺☺

Hari-hariku yang dulunya penuh keceriaan, kini telah berubah menjadi awan mendung yang seakan hendak menurunkan badai, aku tak dapat menahan diri lagi ketika harus mendengar untuk kesekian kalinya teman-teman memojokkan Adrian.
“Kalian tidak pantas berbicara seperti itu kepada Adrian. Apakah kalian lupa siapa yang menolong kalian ketika kalian terjepit? Kau alan! Siapa yang menolongmu ketika kau tidak dapat melunasi iuran komite? Kau Wawan! Siapa yang menolongmu ketika kau kesulitan karena harus mengganti komputer sekolah yang telah kau rusak? Kau Wita! Siapa yang tanpa pamrih membelamu ketika Rangga mempermalukanmu di lapangan basket? Adrian dengan tulus menolong kalian. Mengapa kalian tega memojokkan Adrian seperti ini? Mengapa kalian mengacuhkannya ketika dia memerlukan topangan. Kalau seperti ini apa bedanya kalian dengan Rangga? Tak kusangka hati kalian sebusuk itu!” tegasku sambil menghakimi mereka satu persatu.
Begitu marahnya, sampai-sampai tak kusadari Adrian telah berdiri dibelakangku,
“Terima kasih,” ucapnya sambil berjalan melaluiku.
“Adrian kumohon hentikan semua ini, ini bukan kebahagiaan tapi jurang    kehancuran.”
“Terlambat”
“Bagaimana dengan basket dan mimpi-mimpimu? Jangan buat orang tuamu kecewa. Bukankah dulu kau yang selalu mengingatkanku agar selalu berpikir positif  terhadap semua masalah yang menimpa, tapi kenapa sekarang kau lupa akan semua itu, sebenarnya jiwamu sedang mengembara kemana Adrian?”
“Ana! Aku tak ingin menyakiti siapa pun. Jadi, biarkan aku dengan kehidupan dan kebahagiaanku bersama Rangga.”
Sambil mengangguk dia pun pergi menemui Rangga yang telah menunggunya di gerbang sekolah. Melihatnya seperti itu, aku tak dapat berbuat apa-apa selain berharap agar secercah cahaya dapat menembus sudut hatinya yang kini kelam.

☺☺☺

Pagi yang indah di hari minggu ini seakan tak ingin bergabung dengan perasaanku yang sedang kalut. Ingin rasanya aku mencacai-maki Rangga, tapi itu tidak mungkin. Ditengah lamunanku, tiba-tiba Ferdi muncul dengan tergesa-gesa, sambil menarik tanganku dia berkata,
“Adrian overdosis An.”
“Dimana Adrian sekarang?”
“Di rumahnya”
Tanpa banyak bicara aku pun mengikuti Ferdi menuju rumah Adrian, disepanjang jalan aku hanya dapat berdoa agar Adrian dapat diselamatkan. Setelah beberapa menit, kami tiba di rumah Adrian. Ferdi membawaku ke ruang tengah. Ternyata Adrian tidak overdosis, namun badannya menggigil karena kecanduan.
“Ferdi panggil ambulan!” teriakku, tetapi dia sama sekali tidak menjawab.
Ketika kuangkat wajahku, akupun terkejut melihat Rangga dan Ferdi menyeret Wahyu sambil memegang pisau.
“Ternyata ini jebakan,” lirihku dalam hati.
“Jangan berteriak lagi,” tegasnya kepadaku.
Akupun terdiam, kemudian Rangga melanjutkan kata-katanya,
“Aku tidak sebodoh itu Ana! Kamu pikir aku tidak tahu kalau kau dan Wahyu pernah menyelinap kemari, kalian juga memiliki bukti tentang semua ini dan hendak melaporkan kami ke polisi. Tapi tidak semudah itu,” setelah beberapa detik terdiam, dia pun berkata lagi.
“Apa susahnya menjalani hidup tanpa harus mencampuri urusan orang lain, apakah kamu ingin bernasib seperti Adrian? Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti kalian, tapi kalian selalu menggagalkan rencanaku, terlebih-lebih Adrian yang telah banyak tahu tentang diriku. Aku muak dengan kalian! Akhirnya kurencanakan kecelakaan itu hingga menewaskan orang tua Adrian,” tanpa mempedulikan tangisanku, Rangga memberikan pilihan kepadaku dan Wahyu “Kalian ingin mati atau laksanakan semua perintahku?”
Tak tahan kumendengarkan semua itu, aku pun menjawab,
“Tak sudi ku menjadi budakmu, kamu itu iblis Rangga, aku tidak akan memaafkanmu”
Tanpa memberi komentar, Rangga langsung mengacungkan pisaunya dan hendak ditancapkan kepadaku, aku sudah pasrah pada keadaan ini, tapi Adrian tidak membiarkannya terjadi, dengan cepat ditancapkannya pisau ke dada Rangga terlebih dahulu yang entah darimana didapatkannya. Rangga pun tak berdaya dan darah mengalir disekujur tubuhnya, aku berharap ini mimpi, tapi tak mungkin.
Setelah beberapa lama, polisi tiba di rumah Adrian untuk menangkap Ferdi dan membawa Wahyu sebagai saksi, sedangkan Adrian dan Rangga dilarikan ke rumah sakit, nyawa Rangga pun tak dapat diselamaykan lagi.
“Darah dibayar darah, jika bukan Rangga yang mati, mungkin kami yang mati,” ucap hati kecilku.
Berhari-hari menunggu, akhirnya Adrian siuman, akupun pergi menemuinya, dan untuk kesekian kalinya aku menangis, tapi tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan karena dapat melihatnya kembali.
“Sudah berapa banyak tetesan bening itu mengalir mengalir dari sudut matamu An?” tanyanya
“Entahlah.”
“Masih pantaskah aku menjadi sahabatmu?”
“Tak ada kata perpisahan dalam sebuah persahabatan, kamu menjadi pecandu, pembunuh, bahkan teroris sekalipun, kau tetaplah sahabatku Adrian.”
“Terima kasih An, sekarang aku akan memulai hidup baru dan menggapai semua mimpiku, tapi sebelum itu aku harus menebus kesalahanku terlebih dahulu”
“Aku akan membantumu.” Dukungku
Polisi dan petugas rehabilitasi masuk ke kamar Adrian untuk membawanya. Aku sudah menduga akan hal ini, Adrian harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya dan meninggalkan sekolah selama satu tahun. Begitu sakit rasanya melihat sahabatku harus menjalani hidup seperti ini, karena kesalahannya ketika mengejar kebahagiaan bersama Rangga yang hanyalah sebuah fatamorgana.
“Sampai jumpa sahabat terbaikku,” ucapnya kepadaku.
Senyumannya pun mengiringi perpisahan itu, perpisahan untuk sebuah pertemuan. Jika kelak pertemuan itu terjadi, kuberharap badai ini tak akan ada lagi, melainkan mentari yang akan bersinar kembali menyinari kehidupan. Kehidupan setiap insan dan tak terkecuali untuk Adrian, sahabat yang memberi warna di setiap lembar kehidupanku.
☺☺☺

OLEH
August_tynz

9 Comments

  1. hidayat07 said,

    wadoh….
    ini cerpen pa cerpan??? panjang amat buq…

    • tinz08 said,

      yach cerpen lah,, bagus khan… titin gtu loooh

      ntar ta’ buatin cerpen,, kmu jadi pmeran utamanya,, mauuuuw!!!!!!!

    • adit38 said,

      Saya jadi tokoh antagonisnya aja deh

      • tinz08 said,

        ych pak,, masa mau jadi tokoh antagonis,, protagonis aja ych,, hehe,, biar dayat dh yang jadi antagonis nya,, okeh!!

      • adit38 said,

        okey deh….

      • tinz08 said,

        tapi blum tau nie pak kpan bisa nulis cerpen lagi,, selesai uts atau selse uas mungkin,, mw jdi tkoh apa pak??? hehe…

      • adit38 said,

        Jadi ahli teror aja, kan di blog saya bicara teror miskol dan sms terus.

      • tinz08 said,

        duh…..
        pke tema teknologi dunkzz,,
        o y pak klw bleh tau apliksai2 yng ada di blog bpak tuh hsil pmikiran sndri yach????

      • adit38 said,

        Ya iyalah, hasil pengalaman sendiri menggunakan aplikasi itu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: